Squid adalah proxy server dan web cache daemon yang mempunyai banyak kegunaan dalam sebuah jaringan komputer. Squid mendukung trafik HTTP, HTTPS, FTP dan lainnya. Squid akan mengurangi penggunaan bandwidth dan mempercepat waktu respons dengan melakukan caching terhadap alamat-alamat yang sering diakses. Squid server juga dapat menjadi suatu alat pembantu keamanan dengan cara menyaring lalu lintas yang keluar dari jaringan. Squid banyak digunakan pada lingkungan kerja atau kampus dan ISP untuk melakukan penyaringan jaringan ataupun untuk mempercepat koneksi, dan menghemat bandwidth. Berikut proses instalasi Squid dalam jaringan yang kami gunakan:
# apt-get install squid
Setelah proses selesai. Kita lakukan editing pada berkas squid.conf. Kita backup dulu file konfigurasi tersebut:
# mv /etc/squid/squid.conf /home/server/squid.conf.x
Kemudian kita buat berkas squid.conf yang baru:
# vim /etc/squid/squid.conf
Berkas konfigurasi Squid default sebenarnya terdiri dari ribuan baris dan sangat dinamis. Anda bisa melakukan editing sesuai kebutuhan. Namun pada dasarnya ada beberapa parameter yang perlu diperhatikan yaitu http_port, direktori untuk menyimpan cache dan log, serta pengaturan blok ip agar semua komputer di jaringan dapat menggunakan Squid proxy.
Silakan search atau download contoh squid.conf dan Anda bisa konfigurasikan sesuai kebutuhan. Salah satu contoh berkas konfigurasi squid:
# wget http://www.ari-f.com/file/squid.conf
Contoh konfigurasi squid.conf yang lain bisa dilihat di:
http://dobelden.wordpress.com/2010/05/03/konfigurasi-squid-proxy-di-ubuntu/
Setelah selesai melakukan konfigurasi squid. Buatlah swap:
# squid -z
Kemudian ubah ownership beberapa berkas-berkas pendukung squid:
#chown -R proxy:proxy /etc/squid/*
#chown -R proxy:proxy /cache/
Lalu periksa apakah settingan sudah benar dengan menggunakan perintah:
# squid Ncd1
Kemudian kita jalankan squid:
# squid -d
Apabila Anda melakukan konfigurasi ulang berupa penambahan, pengurangan atau apapun pada berkas squid.conf, jangan lupa untuk menggunakan perintah:
# squid -k reconfigure
Selanjutnya tambahkan baris berikut pada file rc.local:
/bin/rm -f /var/run/squid.pid
/usr/sbin/squid -D
Apakah Squid sudah running dengan benar di server, kita check dengan menggunakan perintah:
# ps -aux
Kini Squid server sudah kita bangun dan siap menerima HTTP request dari komputer yang berada di bawah jaringan. Agar semua trafik dari komputer klien di forward ke port 3128. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan yaitu misalnya dengan setting manual internet option pada komputer klien, kita isikan ip server dalam hal ini 192.168.3.30 dan port 3128. Atau Anda juga bisa membuat translasi prerouting NAT agar semua trafik ke port 80 dibelokkan ke port 3128 pada server. Atau dapat juga dengan cara yang lebih mudah seperti yang kita ujicobakan yaitu dengan menggunakan program ipkungfu:
# apt-get install ipkungfu
Kemudian selanjutnya kita konfigurasi:
# vim /etc/ipkungfu/redirect.conf
Tambah baris berikut:
tcp:80:3128:internal # transparent squid proxy
Biasanya baris diatas sudah ada dalam berkas redirect.conf, jika hendak kita pergunakan kita tinggal hilangkan tanda # didepannya.
Kemudian kita jalankan kembali ipkungfu dari terminal:
# ipkungfu
Dan perlu kita edit agar konfigurasinya berjalan setiap kali booting:
# vim /etc/default/ipkungfu
Hilangkan tanda # pada bagian:
IPKFSTART=1
Dengan menggunakan ipkungfu, maka semua komunikasi dan request pada port 80 (HTTP) komputer klien di jaringan akan "dipaksa" untuk melalui port Squid server yang telah kita tentukan yaitu 3128.
Untuk mengecek apakah Squid sudah berjalan, ketika komputer klien melakukan aktifitas browsing, kita buka log file Squid:
# tail -f /var/log/squid/access.log
Atau bisa menggunakan program log viewer untuk Squid salah satunya yaitu Squidview
# apt-get install squidview
Untuk melihat log-nya cukup jalankan diterminal:
# squidview
Jumat, 24 September 2010
Instalasi Squid Proxy Server
Diposting oleh
about me
di
03.47
0
komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Rabu, 08 September 2010
DNS Server
oleh abidz anam
Kita mungkin tidak atau belum menyadari fungsi dan keberadaan DNS (Domain Name System), tapi ketika kita berinteraksi menggunakan internet. Anda telah menggunakan DNS. Ketika anda mengetik google.com di browser, sebenarnya Anda telah meminta DNS server untuk melakukan resolve google.com ke alamat ip 66.102.7.104. Sebagai manusia tentu kita lebih mudah menghafal nama, pasti Anda akan ingat sebagian besar alamat web yang Anda kunjungi. Dengan contoh lain, dapatkah Anda menghafal 15 nomor handphone teman-teman Anda? Tidak mudah bukan? Dalam dunia maya, disinilah fungsi DNS berperan. DNS akan melakukan mapping antara hostnames, yang lebih familiar dengan manusia dan internet address yang digunakan oleh komputer.
Kita akan melakukan instalasi Bind9 untuk keperluan DNS server pada jaringan kita:
# apt-get install bind9
Selanjutnya seperti biasa, kita lakukan konfigurasi dulu. Kali ini yang perlu kita edit adalah pada berkas named.conf.option
# vim /etc/bind/named.conf.option
Perhatikan pada baris berikut:
// forwarders {
// 0.0.0.0;
// 0.0.0.0;
// };
Hilangkan tanda // dan berikan DNS dari ISP yang Anda gunakan. Disini kita gunakan DNS dari Telkom Speedy yaitu 202.134.0.155 dan 202.134.0.61:
forwarders {
202.134.0.155;
202.134.0.61;
};
Anda juga bisa menggunakan public DNS server. Salah satu yang paling banyak digunakan dan berguna untuk melakukan filtering terhadap situs-situs tidak baik adalah OpenDNS . OpenDNS merupakan Domain Name System global yang berlokasi di San Fransisco, USA. OpenDNS menawarkan infrastruktur gratis dan berbayar sebagai alternatif nameserver yang ditawarkan ISP. OpenDNS banyak dipakai oleh pengguna internet karena kemampuannya melakukan blokir terhadap situs-situs yang masuk kategori blacklist misalnya situs-situs pornografi, judi dan obat-obatan terlarang. Bisa juga menggunakan DNS dari Nawala, sebuah DNS berlokasi di Indonesia yang juga mempunyai fungsi content filtering. (www.nawala.org)
forwarders {
208.67.222.222;
208.67.220.220;
};
Setelah selesai menambahkan DNS eksternal langkah berikutnya yaitu menambahkan zone. Buka file named.conf:
# vim /etc/bind/named.conf
Kemudian isikan beberapa baris berikut ini:
zone "misalnya.com" {
type master;
file "/etc/bind/db.misalnya.com";
};
zone "4.168.192.in-addr.arpa" {
type master;
file "/etc/bind/db.192.168.4";
};
Selanjutnya kita buat file db.misalnya.com
# vim /etc/bind/db.misalnya.com
Dan isi file tersebut dengan:
$TTL 604800
@ IN SOA ns.misalnya.com. your_email@your.domain.com. (
1 ; Serial can be replaced by a number like YYYYMMDDNN where NN is an incrementing number
604800 ; Refresh
86400 ; Retry
2419200 ; Expire
604800 ) ; Negative Cache TTL
;
@ IN NS ns.
@ IN A 192.168.4.1
ns IN A 192.168.4.1
host1 IN A 192.168.4.2
Terakhir, kita buat file db.192.168.4
# vim /etc/bind/db.192.168.4
Dan isikan baris berikut:
$TTL 604800
@ IN SOA ns.misalnya.com your_email@misalnya.com. (
1 ; Serial
604800 ; Refresh
86400 ; Retry
2419200 ; Expire
604800 ) ; Negative Cache TTL
;
@ IN NS ns
2 IN PTR host1
Simpan berkas tersebut lalu restart Bind9
# service bind9 restart
Kalau tidak ada kesalahan maka sekarang kita sudah mempunyai DNS server untuk jaringan lokal.
* Stopping domain name service... bind9 [ OK ]
* Starting domain name service... bind9 [ OK ]
Agar semua klien di jaringan secara otomatis menggunakan DNS server yang telah kita bangun. Kita tugaskan DHCP server yang tilah kita bangun diatas untuk melakukan auto configure. Buka kembali file dhcpd.conf yang telah kita edit sebelumnya:
# vim /etc/dhcp3/dhcpd.conf
Kemudian kita sisipkan baris berikut pada konfigurasi yang telah kita buat:
option domain-name-servers 192.168.3.30;
Sehingga menjadi:
subnet 192.168.3.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.3.31 192.168.3.51;
option domain-name-servers 192.168.3.30;
option routers 192.168.3.30;
option broadcast-address 192.168.3.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}
Sekarang pada tiap komputer klien, kita lakukan setting supaya mendapatkan DNS secara otomatis. Dari Ipv4 properties di Windows kita pilih "Obtain DNS server address automatically" Lalu klik OK. Kalau tidak ada masalah kali ini komputer klien akan menggunakan alamat ip dan DNS server secara otomatis tanpa kita perlu isikan apapun secara manual lagi
Kita mungkin tidak atau belum menyadari fungsi dan keberadaan DNS (Domain Name System), tapi ketika kita berinteraksi menggunakan internet. Anda telah menggunakan DNS. Ketika anda mengetik google.com di browser, sebenarnya Anda telah meminta DNS server untuk melakukan resolve google.com ke alamat ip 66.102.7.104. Sebagai manusia tentu kita lebih mudah menghafal nama, pasti Anda akan ingat sebagian besar alamat web yang Anda kunjungi. Dengan contoh lain, dapatkah Anda menghafal 15 nomor handphone teman-teman Anda? Tidak mudah bukan? Dalam dunia maya, disinilah fungsi DNS berperan. DNS akan melakukan mapping antara hostnames, yang lebih familiar dengan manusia dan internet address yang digunakan oleh komputer.
Kita akan melakukan instalasi Bind9 untuk keperluan DNS server pada jaringan kita:
# apt-get install bind9
Selanjutnya seperti biasa, kita lakukan konfigurasi dulu. Kali ini yang perlu kita edit adalah pada berkas named.conf.option
# vim /etc/bind/named.conf.option
Perhatikan pada baris berikut:
// forwarders {
// 0.0.0.0;
// 0.0.0.0;
// };
Hilangkan tanda // dan berikan DNS dari ISP yang Anda gunakan. Disini kita gunakan DNS dari Telkom Speedy yaitu 202.134.0.155 dan 202.134.0.61:
forwarders {
202.134.0.155;
202.134.0.61;
};
Anda juga bisa menggunakan public DNS server. Salah satu yang paling banyak digunakan dan berguna untuk melakukan filtering terhadap situs-situs tidak baik adalah OpenDNS . OpenDNS merupakan Domain Name System global yang berlokasi di San Fransisco, USA. OpenDNS menawarkan infrastruktur gratis dan berbayar sebagai alternatif nameserver yang ditawarkan ISP. OpenDNS banyak dipakai oleh pengguna internet karena kemampuannya melakukan blokir terhadap situs-situs yang masuk kategori blacklist misalnya situs-situs pornografi, judi dan obat-obatan terlarang. Bisa juga menggunakan DNS dari Nawala, sebuah DNS berlokasi di Indonesia yang juga mempunyai fungsi content filtering. (www.nawala.org)
forwarders {
208.67.222.222;
208.67.220.220;
};
Setelah selesai menambahkan DNS eksternal langkah berikutnya yaitu menambahkan zone. Buka file named.conf:
# vim /etc/bind/named.conf
Kemudian isikan beberapa baris berikut ini:
zone "misalnya.com" {
type master;
file "/etc/bind/db.misalnya.com";
};
zone "4.168.192.in-addr.arpa" {
type master;
file "/etc/bind/db.192.168.4";
};
Selanjutnya kita buat file db.misalnya.com
# vim /etc/bind/db.misalnya.com
Dan isi file tersebut dengan:
$TTL 604800
@ IN SOA ns.misalnya.com. your_email@your.domain.com. (
1 ; Serial can be replaced by a number like YYYYMMDDNN where NN is an incrementing number
604800 ; Refresh
86400 ; Retry
2419200 ; Expire
604800 ) ; Negative Cache TTL
;
@ IN NS ns.
@ IN A 192.168.4.1
ns IN A 192.168.4.1
host1 IN A 192.168.4.2
Terakhir, kita buat file db.192.168.4
# vim /etc/bind/db.192.168.4
Dan isikan baris berikut:
$TTL 604800
@ IN SOA ns.misalnya.com your_email@misalnya.com. (
1 ; Serial
604800 ; Refresh
86400 ; Retry
2419200 ; Expire
604800 ) ; Negative Cache TTL
;
@ IN NS ns
2 IN PTR host1
Simpan berkas tersebut lalu restart Bind9
# service bind9 restart
Kalau tidak ada kesalahan maka sekarang kita sudah mempunyai DNS server untuk jaringan lokal.
* Stopping domain name service... bind9 [ OK ]
* Starting domain name service... bind9 [ OK ]
Agar semua klien di jaringan secara otomatis menggunakan DNS server yang telah kita bangun. Kita tugaskan DHCP server yang tilah kita bangun diatas untuk melakukan auto configure. Buka kembali file dhcpd.conf yang telah kita edit sebelumnya:
# vim /etc/dhcp3/dhcpd.conf
Kemudian kita sisipkan baris berikut pada konfigurasi yang telah kita buat:
option domain-name-servers 192.168.3.30;
Sehingga menjadi:
subnet 192.168.3.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.3.31 192.168.3.51;
option domain-name-servers 192.168.3.30;
option routers 192.168.3.30;
option broadcast-address 192.168.3.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}
Sekarang pada tiap komputer klien, kita lakukan setting supaya mendapatkan DNS secara otomatis. Dari Ipv4 properties di Windows kita pilih "Obtain DNS server address automatically" Lalu klik OK. Kalau tidak ada masalah kali ini komputer klien akan menggunakan alamat ip dan DNS server secara otomatis tanpa kita perlu isikan apapun secara manual lagi
Diposting oleh
about me
di
20.16
0
komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Instalasi DHCP Server
Setelah setting NAT berhasil, komputer klien akan ikut menikmati akses internet dengan catatan kita harus memasang ip statis secara manual dulu pada mesin yang bersangkutan. Sebagai contoh diatas, kita pasangkan ip 192.168.3.31 pada laptop yang terhubung ke server dan barulah laptop tersebut bisa digunakan untuk browsing ke internet. Apabila terdapat misalnya 5 komputer, pekerjaan tersebut tidaklah susah. Tapi bagaimana jika dalam sebuah LAN terdapat 100 komputer? Jari-jari anda tentu akan pegal mengkonfigurasi secara manual ip statis untuk 100 komputer. Untuk itulah agar tiap klien memperoleh ip secara otomatis, kita perlu melakukan instalasi DHCP server.
Dynamic Host Configuration Protocol (DCHP) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat ip dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat ip kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat ip secara otomatis dari server DHCP. Selain alamat ip, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server.
Berikut adalah proses instalasi DHCP server. Gunakan console dan ketikkan:
# apt-get install dhcp3-server
Setelah selesai, kita edit file dhcpd.conf:
# vim /etc/dhcp3/dhcpd.conf
Kemudian tambahkan baris berikut ini:
subnet 192.168.3.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.3.31 192.168.3.53;
option routers 192.168.3.30;
option broadcast-address 192.168.3.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}
Perhatikan pada parameter range 192.168.3.31 192.168.3.51; Disini berarti ada 22 alamat ip yang siap didistribusikan untuk komputer-komputer klien yang ada dalam jaringan. Blok ip tersebut dapat disesuaikan sesuai kebutuhan.
Setelah disimpan, langkah berikutnya yaitu menentukan interface mana yang digunakan untuk proses distribusi ip. Disini yang kita pakai yaitu eth1
# vim /etc/default/dhcp3-server
Isikan eth1 pada parameter interfaces sehingga menjadi:
INTERFACES="eth1"
Simpan konfigurasi tersebut lalu tutup file-nya dan lakukan restart DHCP server yang telah kita instal:
# service dhcp3-server restart
Pastikan tidak ada pesan error apapun
* Stopping DHCP server dhcpd3 [ OK ]
* Starting DHCP server dhcpd3 [ OK ]
Pada laptop yang terhubung ke server, kita ubah pengaturan ip-nya. Pada percobaan diatas kita mengisi ip secara manual, kali ini dari Ipv4 properties di Windows kita pilih "Obtain an ip address automatically" untuk mendapatkan ip secara otomatis dari server. Lalu klik OK.
Kalau tidak ada kesalahan dalam proses instalasi dan konfigurasi DHCP server maka laptop klien ini akan mendapat ip secara otomatis dan selanjutnya tetap bisa browsing ke internet. Gunakan command prompt dan ketikkan ipconfig untuk melihat apakah Windows sudah mendapatkan ip secara otomatis dari DHCP server yang telah kita bangun.
Dynamic Host Configuration Protocol (DCHP) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat ip dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat ip kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat ip secara otomatis dari server DHCP. Selain alamat ip, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server.
Berikut adalah proses instalasi DHCP server. Gunakan console dan ketikkan:
# apt-get install dhcp3-server
Setelah selesai, kita edit file dhcpd.conf:
# vim /etc/dhcp3/dhcpd.conf
Kemudian tambahkan baris berikut ini:
subnet 192.168.3.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.3.31 192.168.3.53;
option routers 192.168.3.30;
option broadcast-address 192.168.3.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}
Perhatikan pada parameter range 192.168.3.31 192.168.3.51; Disini berarti ada 22 alamat ip yang siap didistribusikan untuk komputer-komputer klien yang ada dalam jaringan. Blok ip tersebut dapat disesuaikan sesuai kebutuhan.
Setelah disimpan, langkah berikutnya yaitu menentukan interface mana yang digunakan untuk proses distribusi ip. Disini yang kita pakai yaitu eth1
# vim /etc/default/dhcp3-server
Isikan eth1 pada parameter interfaces sehingga menjadi:
INTERFACES="eth1"
Simpan konfigurasi tersebut lalu tutup file-nya dan lakukan restart DHCP server yang telah kita instal:
# service dhcp3-server restart
Pastikan tidak ada pesan error apapun
* Stopping DHCP server dhcpd3 [ OK ]
* Starting DHCP server dhcpd3 [ OK ]
Pada laptop yang terhubung ke server, kita ubah pengaturan ip-nya. Pada percobaan diatas kita mengisi ip secara manual, kali ini dari Ipv4 properties di Windows kita pilih "Obtain an ip address automatically" untuk mendapatkan ip secara otomatis dari server. Lalu klik OK.
Kalau tidak ada kesalahan dalam proses instalasi dan konfigurasi DHCP server maka laptop klien ini akan mendapat ip secara otomatis dan selanjutnya tetap bisa browsing ke internet. Gunakan command prompt dan ketikkan ipconfig untuk melihat apakah Windows sudah mendapatkan ip secara otomatis dari DHCP server yang telah kita bangun.
Diposting oleh
about me
di
20.10
0
komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Langganan:
Postingan (Atom)